LUCK

| Jul 2, 2011

Sejak lulus S1, saya sangat ingin melanjutkan studi di Eropa. Tepatnya di Belanda. Keinginan itu mendapat ujiannya pada tahun 2009, saat saya diterima di salah satu universitas impian saya tapi tidak berhasil mendapatkan beasiswa. Hati saya hancur saat itu. Saya menangis 3 hari 3 malam seperti seorang gadis yang ditinggal kawin sama pria pujaan hatinya!


Sekarang, saya masih ingin melanjutkan studi di Eropa. Dengan pertimbangan adanya suami dan bayi kami, saya tunda dulu keinginan itu, sembari masih menguatkan diri bahwa suatu hari mimpi itu, atas izin Sang Pemungkin Segala, akan terwujud.


Beberapa pekan lalu, saat iseng berselancar di situs 'mukabuku', saya mendapati bahwa teman baik saya akhirnya mewujudkan mimpinya -mimpi yang sama dengan saya- . Seingat saya, sedari tahun 2008 kami beberapa kali bertukar info tentang beasiswa dan berbagi cerita tentang mimpi kami itu. Betapa saya iri dengan dia. Ucapan-ucapan selamat yang dituliskan teman-temannya saat ia baru saja mendapat kabar baik itu membuat hati saya terbakar. Bukan karena cemburu. Eh.. ya pasti karena cemburu, karena saya sangat sangat sangat ingin seperti dia.


Tapi saya bukan pencemburu buta. Saya pun sangat senang dia akhirnya dapat apa yang dia impikan selama ini. Seperti visinya di awal tahun 2011 ini: bertemu jodoh di bawah pohon di suatu tempat di Eropa! Saya ucapkan selamat sepenuh hati sambil bertanya-tanya, apa yang ia lakukan sampai ia dapatkan mimpinya itu?


Malam ini, setelah beberapa kali gagal menguhubungi dia -beginilah perjuangan menghubungi traveler via internet, kepentok di jaringan wi-fi- akhirnya saya 'bertemu' dengannya. Ia pun berbagi cerita.


(Dan karena kebodohan saya menutup jendela perbincangan kami di YM sebelum selesai menulis cerita ini, saya tulis kira-kira, maaf kalau tidak tepat seperti yang disampaikan :p)


Berbeda dengan saya yang patah arang di tahun 2009. Perjuangannya mencari beasiswa ternyata terus berlanjut hingga dua tahun berikutnya. Dia mengaku sempat lelah ditolak terus. Apalagi jika mendengar ada temannya yang diterima. Setiap penolakan, dia merasa patah hati dan pelariannya adalah karaoke dengan lagu 'I’m Jealous': what she got that I don’t, what she did that I won’t? Hikikikkk… ternyata 11-12 sama saya. Cemburu! Namun teman saya ini tetap saja melanjutkan perjuangannya.


Dan tahun 2011. Ya, tahun ini. Dia merasa bahwa tahun ini haruslah saatnya! Maka sedari akhir 2010, dia dengan serius mendaftar ke universitas-universitas di Eropa (saya ga tau persis berapa universitas yang ia daftar, karena teman saya ini mengaku saking banyaknya sampe malas menghitung). Dan tidak tanggung-tanggung, dia mendaftar sekaligus 5 beasiswa! Ya, lima! Setahu saya, mendaftar satu beasiswa saja repotnya banget-banget, apalagi ditambah kesibukan kerja di kantor. Lha yang ini.. lima! Dia mendaftar Erasmus Mundus, VLIR-Belgia, Stuned, Chevening dan NFP. Saya semakin kagum dengan gadis mungil ini. Dia pun bercerita bahwa setiap aplikasi dan CV yang ia kerjakan, dikerjakannya dengan sungguh-sungguh.


Hasilnya? Pada awalnya dia sempat hampir patah hati lagi. Erasmus Mundus dan VLIR menolaknya sedari awal. Lalu tak lama Stuned. Tapi kemudian dia diterima oleh NFP dan Chevening. Wow! Setau saya dua beasiswa ini ditujukan ke beberapa negara berkembang; jadi bukan hanya untuk Indonesia. Saingannya ada di seluruh penjuru dunia. Dan teman manisku ini dapat dua-duanya! Luar biasa! Mendengar (eh.. membaca ding.. kan ngobrolnya via YM :p) ini, mata saya berkaca-kaca, jantung saya berdegup kencang. Saya masih merasa cemburu. Namun saya lebih merasa bangga terhadap teman saya ini. Saya sangat bahagia untuknya!


Karena mendapat dua beasiswa, dia harus memilih salah satu. She had the priviledge to choose! Ah senangnya… Tapi itu sama sekali tidak mudah, katanya. Karena sudah pernah ditolak berkali-kali, memilih salah satu diantara dua beasiswa ini adalah kesulitan yang luar biasa. Pilihan awalnya berat di Belanda. “Karena visa nya Schengen… jadi bisa jalan-jalan keliling Eropa,” katanya. Tapi pada akhirnya dengan bijaknya dia memilih UK, karena cita-citanya di Eropa adalah studi, bukan jalan-jalan. Ahh… makin bangga saya dengannya. Saat itu ingin sekali saya memeluknya erat (dan mencubit pipinya yang makin bulat itu!)


Saya masih cemburu. Saya masih ingin seperti dia. Saya sangat bangga padanya! Teman petualang saya ini benar-benar membuktikan bahasa bijaknya Randy Pausch: Luck is when the preparation meets the opportunity. “Yes Nov.. We have to do things. A lot of things,” katanya, menutup cerita.


Dan saya berjanji untuk meminjamkannya sebuah kompas penunjuk kiblat. Kompas yang saya beli sepulang saya dari Jepang. Saat membeli kompas itu, saya berharap untuk membawanya keliling dunia. Hingga kini kompas itu belum keluar negeri karena perjalanan saya setelah Jepang adalah Mekah dan Medinah untuk umroh (tak ada gunanya membawa kompas sholat di dua kota itu, kan?), dan bodohnya saya lupa membawa kompas itu saat saya ke India. “Gue pengen kompas itu nyampe di Eropa duluan,” kata saya. Kami pun berjanji akan bertemu di Eropa nanti untuk bertukar kompas: dia mengembalikan kompas saya, saya akan memberikannya kompas baru. Sebuah mimpi yang InsyaAllah akan saya wujudkan di tahun… eng… 2013! Aamin ya Rabb!


Masih ingin memeluk teman saya. Saya sangat yakin ia akan bersinar di Edinburgh nanti... Dan bertemu dengan jodohnya suatu hari dimusim gugur, di bawah pepohonan yang memerah daunnya, di Eropa!

4 komentar:

s i l v i a said...

Hey,I think I know pemilik pipi bulat itu (semoga gak salah) :) Salam kenal ya Nova, cerita pejuang beasiswa memang beragam dan intinya memang berdarah-darah,gak boleh putus asa sama sekali. Pasti ada tangis, keringat dan kegilaan di situ,dan gek pernah salah kalo punya motivasi yang gak nyambung sama sekali sama urusan persekolahan. Motivasiku dulu simple- sebagai manusia tropis aku kpingin membelai2 salju! I did it, and nothing compare to a dream comes true!
Semoga kawan kita si pipi bulat sukses di sana,tidak saja sukses menemukan pohonnya tapi juga prianya. There's nothing wrong bout having a dream,even the most ridiculous one :)

Anonymous said...

Hi Nova,

Ada teman saya juga sama seperti Nova statusnya, bersuami dan punya anak, tapi tetap berjuang mendapatkan beasiswa dan akhirnya dikabulkan.

Hanya satu kunci : terus berusaha dan berdoa.

Ada satu bacaan yang saya suka : Ketoklah maka akan dibukakan, mintalah maka akan diberikan.

Untuk teman Nova yang berpipi bulat, memang bertemu soulmate di bawah pohon itu mimpinya dari beberapa tahun yang lalu.... he-he-he....

Don't give up and GBU

iambeni said...

Ini bisa dibilang salah satu tulisan favorit gw dari seorang Nova.





Dan masih ingat kan keinginan sederhana gw untuk melihat lu ada di kolom koran, peneliti idola gw. ;-)

Keep shining.

Novasyurahati said...

@s i l v i a > salam kenal :) Terimakasih motivasinya. Iya.. sekarang saya (masih) kepengen sekolah di Belanda dengan motivasi tambahan: supaya Alif TK/SDnya di Belanda! Ehehehehehe

@anonymous > sepertinya saya kenal Anda :) Salah satu kembaran Si Pipi Bulat, bukan? :D Ya. Saya selalu meminta kepada Sang Penjawab Pinta. Saya yakin, DIA akan mengiyakan pinta saya :) Terima kasih yaaa! Hugs!

@iambeni > uhuhuhuuu.. aku speechless! thanks for being such a good friend to remind me how fabulous I am! Ehehehe... jadi kapan yah kita bisa ketemuan lagi?