Berusia hampir 9 bulan, Alif tumbuh menjadi anak yang sangat aktif. Sejak dia bisa merangkak dengan ajeg (btw, ajeg tuh Bahasa Indonesianya apa yaa??) tanggal 30 Maret 2001 lalu, dia senang sekali mengeksplor seisi rumah, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Yang namanya bayi, sejago-jagonya merangkak pasti terjatuh juga (jadi ingat tupai...). Dalam konteks seorang Alif Dibya Rozani, jatuhnya ia pasti melibatkan bagian kepala yang terantuk sesuatu. Ya lantai, kursi, pinggiran meja, atau kadang kaki ibunya. Dan hasilnya, hampir setiap hari wajah Alif dihiasi benjolan atau codet. Dan setelah terantuk ya pasti ia menangis... sebentar... setelah itu kembali melantai lagi.
Saat Alif bermain bersama neneknya (mertua saya), atau ibu-ibu lain di sekitar rumah mertua, setiap Alif jatuh dan terantuk, Alif selalu dicoba ditenangkan dengan metode, "Cup cup sayang... Jatuh yaa?? Siapa yang nakal? Lantai (atau kursi, perabot, dsb) yang nakal ya? Pukul yang nakal! Ughh! (sambil memeragakan ke Alif cara memukul 'yang nakal' tadi)."
Sebenarnya saya tidak kaget dengan metode cup cup seperti itu. Saya pun, seingat saya, semasa kecil dulu seringkali ditenangkan dengan cara itu. Memukul 'yang nakal'. Tapi sekarang, kepada anak saya, saya menentang metode itu. Jadi setiap kali ada orang yang mengajarkan Alif seperti itu, saya alihkan dengan , "Ga ada yang nakal, Bu... Alif nya yang harus hati-hati, ya Nak?"
Kenapa saya menentang itu? Karena:
- Saya tidak ingin mengajarkan anak untuk memukul demi melampiaskan sesuatu. Apapun bentuknya, memukul adalah kegiatan yang negatif karena menyakitkan (baik yang dipukul ataupun yang memukul).
- Saya ingin mendidik anak sedini mungkin untuk bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesuatu yang disebabkan oleh perilaku/kegiatannya. Untuk tidak menyalahkan sesuatu di luar dirinya yang dirasa jadi penyebab ia jatuh atau mengalami ketidakenakan yang lain. 'Yang nakal', baik itu lantai, kursi, meja, perabot apa lah itu... adalah benda yang tidak bergerak. Lha kalo udah ga bergerak trus ditabrak, kenapa yang disalahin yang ditabrak?
- Dengan terjatuh atau terantuk, anak jadi belajar untuk jadi lebih berhati-hati. Ingat, belajar adalah proses mengalami, merefleksikan pengalaman, lalu melakukan hal yang sama dengan lebih baik. Itu yang ingin selalu saya tanamkan. Dengan demikian ia akan jadi lebih terampil dan mawas diri di kemudian hari.
Jadi.. ga ada yang nakal. Semua baik. Hanya harus lebih berhati-hati :)
2 komentar:
Sepakat.
Ga itu namanya suami yang nakal, istri yang nakal, pria nakal, hahahahaha.
Mana Alifnya, sini gendong Om Beni ganteng dan tidak nakal dulu. :-D
Sukaaaaa.... ntar kalo aku punya anak, aku berguru yah,teh!
*kapan punya anaknya??? (-__-")
Post a Comment