Saya sedang menyusui Alif saat ide ini muncul. Ide untuk thesis saya. Saya tuliskan di sini supaya saya ingat, dan berharap ada masukan untuk memperkaya ide ini.
Saya ingin meneliti dan menulis tentang: Transfer ilmu/kearifan lokal mengenai sumberdaya alam antar generasi di masyarakat yang tinggal dekat dan bergantung langsung kepada hutan.
Jadi gini... Saya dan beberapa teman baru sedang menggagas sebuah inisiatif sosial untuk membuat sekolah suplemen gratis kepada anak bangsa Indonesia. Mimpi kami inisiatif ini bisa meluas di lingkup nasional, tapi sementara baru mo mulai, sekitar Ciputat dulu lahh... Sekolah suplemen ini berniat membagi passion kami mengenai kecintaan pada anak bangsa, transfer nilai2 kebangsaan yang positif, menularkan kreatifitas dan semoga pada akhirnya menjadikan sebagian besar anak bangsa bisa menjadi pribadi yang pe-de dan bermanfaat bagi sesama.
Lalu, saat menyusui barusan, saya berpikir... Saya mau memulai sebuah ide yang implementasinya di Jakarta, tapi saya sudah berencana untuk meneruskan studi saya di Bandung. Trus... di Bandung saya mau ambil studi Biomanajemen; dalam hal ini saya sangat tertarik dengan penelitian yang berbau hutan dan masyarakat pedalaman. Saya rasa udah ga jaman kalo saya masuk hutan hanya untuk melakukan analisis vegetasi (masuk hutan, buat kotak sampling, lalu mendata tumbuhan yang ada dalam kotak2 itu; simpel, tapi pelaksanaannya aduhai bikin kulit berat-beret kena duri dan ranting, bahkan kadang pacet.. hihihii..). Saya ingin melakukan penelitian yang menitikberatkan pada masyarakatnya, terutama generasi mudanya, sesuai dengan minat saya saat ini.
Daaannn... Alhamdulillah, muncullah ide ituh!
Kira2 begini... Saat saya penelitian di Jambi tahun 2005-2007 lalu, saya Alhamdulillah berkesempatan untuk kenal dekat dengan seorang dukun obat di Desa Baru Pelepat, Muara Bungo. Namanya Pak Kuris. Beliau jagoan dalam mengenali buanyaaakkk jenis tanaman dan kegunaannya, kerennya lagi beliau paham jenis-jenis tanaman obat, cara pakai dan khasiatnya. Yang namanya dukun, unsur magis2nya pasti ada, tapi hampir semua tumbuhan yang beliau perkenalkan pada saya memang sudah terdaftar di primbon SEAMEO-Biotrop sebagai tumbuhan berkhasiat obat. Saya sendiri pernah diobati beliau saat kaki saya terkilir, dan saat saya buang2 air. Pak Kuris punya anak 2, laki2 dan perempuan. Masing-masing sudah beranak. Tapi tak ada satu pun anak maupun cucu beliau yang punya kejagoan yang sama dengan Pak Kuris dalam mengenali dan memanfaatkan tumbuhan obat yang ada di hutan sekitar tempat mereka tinggal.
Saya juga berkesempatan untuk kenalan dengan dukun obat yang lain, yang jauh lebih tua dari Pak Kuris. Pak Tamim. Beliau tinggal satu dusun dengan Pak Kuris. Sayang sekali, karena Pak Tamim sudah sangat tua, kondisi fisik, pendengaran, dan penglihatannya sudah sangat lemah. Beliau pun tak berbahasa Indonesia. Karena itulah, saya tidak bisa menjadikan Pak Tamim sebagai narasumber penelitian saya meskipun kata orang-orang Pak Tamim lebih sakti (lebih jago lah..) dibanding Pak Kuris.
Dan sepertinya memang benar kata orang. Saya pernah sekali mengunjungi Pak Tamim untuk mewawancara beliau tentang jenis2 tanaman obat yang ada di lingkungan desa. Pak Tamim langsung nyerocos menyebutkan jenis dan kegunaan. Saat itu beliau didampingi dua orang cucunya, kira2 berumur 7 dan 11 tahun yang sangat membantu menerjemahkan perkataan Pak Tamim kepada saya. Hebatnya lagi, saat saya pamit dari rumah Pak Tamim, cucu Pak Tamim menahan saya dan mengundang saya untuk melihat-lihat tanaman di halaman rumahnya. Semua tanaman berkhasiat obat, katanya. Dan... wow! Saya terkesima oleh dua bocah ini. Bergantian (berebutan, lebih tepatnya, karena keduanya ga mau mengalah untuk bicara), mereka menyebutkan satu-persatu jenis tanaman dan menjelaskan kegunaannya pada saya. Jenis2 itu semua sudah disebutkan oleh Pak Tamim sebelumnya.
Ada perbedaan dengan 2 dukun diatas? Tentu saja. Saya tidak melihat dari segi 'kesaktian' atau siapa yang lebih senior. Saya tertarik pada fakta bahwa Pak Tamim, entah bagaimana caranya, berhasil meneruskan ilmu beliau pada cucu-cucunya, sementara Pak Kuris tidak. Ini yang membuat saya tertarik.
Bangsa Indonesia yang kaya dengan beragam sumberdaya hutan, dahulu menjaga kelestariannya melalui ilmu/kearifan lokal yang disampaikan secara turun-temurun; meskipun nilai2 spiritual yang menjurus ke tahayul sangat banyak ditemukan di setiap kearifan lokal itu, namun sukses menjaga hutan sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi manusia secara turun-temurun. Singkatnya gini: kalo nenek moyang kita dulu yang notabene tinggal di hutan ga bisa menjaga hutan lestari, maka kemungkinan besar saya ga lahir di dunia ini. Lha wong pendahulu saya saja kemungkinan ga hidup tanpa sumberdaya hutan...
Jadi... ini bisa jadi sekedar penelitian, atau bisa berkembang jadi sebuah inisiatif pendidikan: Bagaimana menurunkan kearifan sosial mengenai pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya hutan kepada generasi muda.
Saya ambil filosofinya dari agama saya. Dalam Islam, ada 3 jenis amal yang lestari, berkesinambungan, bahkan pahalanya akan trus mengalir meskipun sang pelaku amal sudah beristirahat di liang kubur. Tiga amalan itu: shodaqoh, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh. Dalam kaitannya dengan ide saya, saya tafsirkan secara bebas (ampun Ya Allah kalau tafsirnya ngaco...) bahwa shodaqoh adalah segala 'kekayaan' yang kita bagi ke orang lain. Ilmu juga kan salah satu bentuk kekayaan, apalagi kalo bermanfaat, untuk menyambung kehidupan bumi dan penghuninya secara makmur dan sejahtera. Dan, cuma anak sholeh (tafsiran bebas = anak yang menjadikan nilai2 kebaikan sebagai cara hidup, anak yang sayang orang tua dan pendahulunya) yang bisa jadi tulang punggung bersambung atau tidaknya kehidupan makmur dan sejahtera itu.
Yah.. kira2 gitu lah. Ini baru oret2, belum jadi ide yang terelaborasi. Minta masukan duung :) Nuhun sebelumnya.
0 komentar:
Post a Comment