Chicken Pox

| Apr 14, 2010

Istilah kedokterannya varicella. Di Indonesia biasa disebut cacar air. Orang Melayu, menurut Bang Beny menyebutnya sakit buah kayu.


Ada apa dengan chicken pox? Alkisah di awal bulan Maret lalu, seorang anak muda yang biasa membantu ibu mertua di rumah datang dengan wajah lesu. Setelah makan siang, dia membuka tasnya dan mengeluarkan plastik kecil berisi obat. Setelah ditanya, dia menjawab: obat cacar. Kontan alarm di kepala saya langsung berbunyi "toet-toet" tanda bahaya. "Haduhh.. gimana kalau saya tertular?? Kan ga lucu banget orang hamil kena cacar..."

Pemuda itu keesokan harinya tidak menampakkan batang hidung di rumah. Hingga dua minggu kemudian, dia datang dengan wajah yang lebih segar, tapi bopeng-bopeng. Bekas cacar.
"Sudah sembuh?" tanya saya.
"Sudah, Mbak," jawabnya pasti.
Alhamdulillah.. lega lah saya. Saya berhasil terhindar dari virus itu (lagi).

Namun demikian... kurang lebih seminggu kemudian, sepulang mengajar saya merasa tubuh saya meriang. Saya pikir saya kena flu biasa, karena beberapa hari sebelumnya saya memang bersin-bersin. Saya khawatir sekali kalau sampai demam, takut mempengaruhi janin saya. Dan ternyata benar, malam itu saya demam. Bang Beny jadi suami siaga, hampir ga tidur menemani saya yang menggigil dan mengigau sepanjang malam.

Paginya, Bang Beny menemukan satu bintik merah di wajah saya.
"Mpok.. jangan-jangan lo kena cacar...?" katanya khawatir.
"Masak sih... tapi kan..."
Belum selesai saya bicara, Bang Beny menelaah punggung saya, dan menemukan lebih banyak bintik merah.
"Hahaha! Bener lo kena cacar! Gue dah curiga dari semalem! Apa gue bilang! Lo mesti fit kalo ga mau ketularan... Kena juga kan! Haha!"
Gini nih punya suami betawi mantan pemain lenong. Nyerocos.

Perlu saya akui dengan malu-malu, bahwa sampai usia saya menginjak angka 27, saya belum pernah sama sekali terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh virus ini. Katanya sih, orang yang pernah terkena cacar air, dalam tubuhnya otomatis akan terbentuk imun alami sehingga orang tersebut kebal terhadap serangan virus serupa (meskipun di beberapa orang ada yang sampai mengalami penyakit cacar sampai 2 kali. Bahkan, konon katanya Bang Beny pernah kena 3 kali!).

Jadi, sekarang inilah saatnya saya merasakan yang namanya cacar air. Saya pribadi sih ga begitu peduli kalau penyakitnya akan lama atau bila bekasnya nanti akan menghiasi wajah dan tubuh saya. Yang saya khawatirkan saat itu adalah janin dalam kandungan saya. Saya lihat di buku "What to Expect...", katanya di situ janin saya bisa berpotensi tertular, karena usianya yang belum menginjak 4 bulan.

Alarm di kepala berbunyi lagi, "toet toet". Yang ada di kepala saya adalah secepatnya ke rumah sakit menemui dokter kandungan saya, atau dokter siapapun yang bisa memberi keterangan bahwa anak saya akan baik-baik saja.

Singkat cerita (setelah drama dilarikannya saya ke UGD RSAB Harapan Kita, dan seterusnya), saya dirujuk oleh dokter kandungan untuk menemui dokter spesialis penyakit dalam dan diberi obat sebanyak 6 macam. Selama lima hari berikutnya saya lebih banyak tewas di tempat tidur. Mungkin karena kebanyakan minum obat.

Alhamdulillah kini saya sudah sembuh. Bayi dalam kandungan saya pun dinyatakan normal dan sehat oleh dokter. Masih ada beberapa bintik cacar yang menunggu kering sempurna, dan terkadang gatal, tapi sudah tidak mempengaruhi aktifitas saya. Saya sudah mulai mengajar lagi.

Sempat terlintas di kepala saya saat saya sakit: kenapa sakitnya sekarang? Tidak jarang saya ingin sekali mengeluh saat itu. Namun alih-alih saya menuruti keinginan saya untuk berkeluh kesah, saya banyak beristighfar, mohon ampun kepada Allah atas ketidaksabaran saya. Seorang sahabat mengingatkan saya untuk terus berpikiran positif agar bayi saya ikutan semangat. Dan Alhamdulillah ternyata mujarab. Namanya penyakit, tidak usah disalahkan datangnya dari mana, atau tertular siapa, kalau memang waktunya terkena ya sakit juga. Tos wayah na, kata orang Sunda.

Lagipula, saya pikir lebih baik saya terkena cacar sekarang daripada saya nanti ikutan sakit apabila anak saya terkena virus itu. Hehe... hikmah memang bisanya diambil di belakang ya?

2 komentar:

beni.suryadi said...

kena chicken, mpok? :D

Novasyurahati said...

huahahaha! kena chicken mpok! kapok!